PERSAUDARAAN
**PERSAUDARAAN**
.
Seorang guru bertanya pada para muridnya, tentang bagaimana mereka bisa tahun kapan malam telah berakhir dan hari segera dimulai.
.
Seorang murid menjawab, "Saat matahari terbenam di ufuk barat dan terbit dari timur."
.
"Benar, tapi bukan itu yang kita cari" kata guru.
.
"Saat kita melihat hewan di kejauhan dan bisa membedakan antara kuda atau keledai"
.
"Masih bukan" kata guru.
.
Setelah lelah memberi jawaban, para murid menyerah, "Kalau begitu, apa jawabannya?"
.
"Saat kalian melihat wajah lelaki manapun dan mengenali saudaramu dalam dirinya. Saat kalian melihat wajah perempuan manapun dan mengenali saudarimu dalam dirinya," jawab guru, "Jika kalian tidak bisa melakukan ini, tak peduli jam berapa matahari bersinar, itu masih saja malam bagi kalian!" pungkasnya.
_____________________
Tentang persaudaraan, Al-Quran menyebutkan begini:
.
انما المؤمنون اخوة.. (الحجرات: ١٠)
"Sesungguhnya tiap mukmin itu bersaudara.."
.
Ibn Arabi lalu berkomentar, dalam Futuhat al-Makkiyahnya (Juz V, hal. 254), bahwa pada konteks ini "iman" dijadikan sebagai "ayah." Karenanya persaudaraan sesama mukmin ialah pertalian "saudara satu ayah" (ikhwah li abi wahid).
.
Nah, barangkali jika antara cerita dan komentar Ibn Arabi itu diramu menjadi satu kita akan mendapati "persaudaraan sejati", dengan iman dan kepedulian sebagai indikator utamanya. Iman membuat keyakinan kita tak luntur. Dan kepedulian membuat iman hidup: dekat dengan nurani, berdesakan dengan darah, berlilitan di antara tulang-tulang dan tak meninggalkan apapun kecuali berbentuk kebaikan.
.
.
Jika kau bersaudara denganku, tak usah malu berbagi cerita: tentang bahagia ataupun luka. Jangan suka menampung duka. Matamu tak selaut itu, saudara. Berbagilah!

Komentar
Posting Komentar